Oleh: hendradp | Juli 14, 2008

Indonesia Negeri Tanpa “MERK”

“Sebelum Indonesia mampu menyandang merk, bangsa ini terlebih dahulu harus mampu menyelesaikan krisis yang dihadapinya”. Republika Online hari ini menulis, Indonesia adalah negeri tanpa merk. Padahal, merk atau brand sangat menentukan citra negeri ini. Di era persaingan global sekarang ini, merk sangat penting dalam strategi pencitraan dan pemasaran supaya orang bisa tahu keunikan negeri ini: apakah sebagai tujuan wisata, pusat produksi barang tertentu, atau tempat yang menguntungkan untuk investasi. Ahli branding Randal Frost mengatakan, “Bayangkan Prancis tanpa mode, Jerman tanpa produk mobil mewah, dan Jepang tanpa produk elektronik yang menjadi keunggulannya dari bangsa lain”. Prancis, Jerman dan Jepang adalah contoh negeri yang bisa mencitrakan dirinya berbeda dengan bangsa lain. Prancis identik dengan dunia fashion. Jerman dengan Mercedes Bentz. Jepang dengan Sony, Toshiba, atau LG. Negara-negara tetangga juga sudah lebih baik mencitrakan dirinya. Malaysia dan Singapura telah berhasil membangun identitas nasionalnya dan menjualnya dengan gegap gempita. Dengan slogan “Malaysia is truly Asia”, negeri jiran itu sukses mencitrakan diri sebagai negara yang memiliki resort yang indah dan negara dengan multikultural yang rukun. Hampir tiap bulan wartawan-wartawan Indonesia diundang ke Kuala Lumpur, Johor atau Genting oleh Badan

Pelancongan Malaysia. Mereka pun menuliskan laporannya di media masing-masing bagaimana indahnya Kuala Lumpur dilihat dari puncak Menara Petronas, enaknya “mie rebus Haji Wahid di Johor” atau bagaimana maraknya suasana Genting, pusat perjudian di negara berpenduduk mayoritas Muslim itu. Semuanya diagendakan untuk menarik perhatian turis agar berkunjung ke Malaysia. Sementara Singapura dengan slogan “Uniquely Singapore” juga berhasil membangun merk-nya sebagai surga untuk belanja di Asia. Orang-orang Indonesia, apalagi pada saat liburan sekolah sekarang ini, tumplek blek ke Negeri Singa itu karena terpincut iklan “Singapore`s Great Sale”. Tiket pesawat dibuat murah, dengan harapan sesampainya di Negara kota itu, para turis bisa menghabiskan uang mereka untuk belanja dan membayar biaya akomodasi yang mahal. Menurut Sekjen PR Society of Indonesia, Ahmed Kurnia Suriawidjaja “Ini ironi yang merisaukan. Saat kita mengkampanyekan `Visit Indonesia year 2008`, pers nasional mengajak liburan ke negeri tetangga,”. Padahal, dulunya, merk Indonesia cukup bagus sebagai “Keajaiban Asia” (Asia Miracle) yang dipuja-puji lembagalembaga internasional seperti Bank Dunia atau Badan Pangan PBB. Akibat krisis ekonomi tahun 1998, semuanya terpuruk. Citra dan merk Indonesia hancur. Jadilah, Indonesia negeri tanpa merk. Tidak ada satu pihak pun yang memikirkan branding, karena semua energi bangsa terkuras menghadapi krisis. Karena tidak sempat memikirkan citra, maka pihak lainlah yang memberikan merk kepada negeri ini. Ketika dunia sedang memerangi terorisme, maka Indonesia dicap sebagai negara pelindung teroris ( harboring terrorism).

Transparancy International memberi label Indonesia sebagai salah satu negara terkorup. Travel warning yang dikeluarkan Amerika Serikat dan Australia memberi stigma Indonesia sebagai negara tidak aman dan berbahaya. Sementara pegiat HAM internasional “menggoreng” kasus terbunuhnya Munir dengan menuding Indonesia sebagai negara pelanggar hak asasi manusia dan membiarkan terjadinya pembunuhan politik. Memang, belakangan ada upaya untuk kembali memikirkan perbaikan citra. Namun menurut Ketua Indonesia Brand Entourage Handito Hadi Joewono, selalu berubah-ubah dan slogan-slogan yang pernah ada dikembangkan pasca lengsernya Soeharto, seperti “Indonesia, just a smile away”, tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Indonesia perlu memerlukan re-branding. Dalam istilah hukum dikenal adanya “rehabilitasi nama baik” berupa dipulihkannya nama baik seseorang yang terbukti tidak bersalah atas kasus hukum tertentu. Handito mengatakan, “Rehabilitasi nama baik merupakan contoh kongkrit dari re-branding”. Masalahnya, mau diberi merk apa Indonesia ke depan?

Apapun merknya, yang penting brand Indonesia itu merupakan keunggulan bangsa Indonesia yang unik dan tidak dimiliki bangsa lain. Begitu juga apakah Indonesia itu akan dicitrakan sebagai tujuan wisata, penghasil produk unggul tertentu, atau tempat investasi yang baik, adalah subyek untuk diputuskan oleh semua stakeholders bangsa ini. Intinya Indonesia perlu re-branding. Sampai kapan negeri ini tanpa merk ? Faktor Satu hal yang pasti mengapa hingga saat ini Indonesia tidak bermerek dan mengapa seluruh upaya branding yang digalakkan selama ini tidak berhasil adalah karena Indonesia tidak mampu memperbaiki citranya. Sebelum Indonesia mampu menyandang merk, bangsa ini terlebih dahulu harus mampu menyelesaikan krisis yang dihadapinya. Di sector pariwisata misalnya, semua pihak yakin tidak ada negara di kawasan Asia Tenggara yang memiliki keragaman lokasi wisata seperti Indonesia. Namun mengapa Indonesia tidak menjadi tujuan para wisatawan asing. Banyak faktor yang terlibat termasuk di antaranya adalah masalah keamanan dan situasi politik di Indonesia. Jelas tidak akan ada wisatawan yang ingin melancong ke negeri yang tidak aman atau dilanda krisis. Di sektor investasi misalnya, Indonesia memang termasuk dalam jajaran negara korup terbesar di dunia. Belum lagi masalah keamanan investasi yang carutmarut. Atau masalah yang baru-baru ini melanda Indonesia yaitu krisis listrik. Bagaimana mungkin investor asing akan mempertaruhkan dananya di negara dengan kondisi yang dialami Indonesia saat ini. Dan inilah sebabnya mengapa upaya branding yang digalakkan selama ini tidak pernah membuahkan hasil. Karena tidak didukung dengan kondisi dan persyaratan lainnya.


Responses

  1. […] Indonesia Negeri Tanpa MERK “Sebelum Indonesia mampu menyandang merk, bangsa ini terlebih dahulu harus mampu menyelesaikan krisis yang dihadapinya”. Republika Online hari ini menulis, Indonesia adalah negeri tanpa merk. Padahal, merk atau brand sangat menentukan citra negeri ini. Di era persaingan global sekarang ini, merk sangat penting dalam strategi pencitraan dan pemasaran supaya orang bisa tahu keunikan negeri ini: […] Posted by bebas Uncategorized Subscribe to RSS feed […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: